Film “BANGKIT” Mengajarkan Kekuatan Cinta Dalam Keluarga

BANGKIT-640x377

Film Bangkit

Andai saja kamu seorang petugas BASARNAS, dan di wilayah tempat tinggalmu sedang ada bencana yang mengharuskan seluruh penduduk untuk di evakuasi, kira-kira siapa yang akan kamu tolong lebih dulu?? anak istri, atau orang lain yang sedang membutuhkan pertolonganmu?.

Dari sisi ego, tentu kita akan memilih menolong keluarga dahulu bukan?? Nggak salah sih…, tapi ingat loh ya, sebagai seorang petugas BASARNAS, sikap profesional itu hukumnya wajib. Seorang petugas SAR tentunya tahu (pake banget), mana orang yang mustinya mendapat pertolongan lebih dulu dan mana yang dilakukan pertolongan belakangan, sesuai prosedur evakuasi.

Paragraf diatas adalah konflik utama yang saya tangkap dalam film “BANGKIT” yang saya tonton kemarin di XXI Blok-M Square. Karena film ini bergenre drama dan action, maka saya mengajak anak dan istri untuk menonton film teranyar yang dibintangi oleh Vino Bastian, Putri Ayudya, Aca Septriasa, dan Deva Mahendra ini.

Film ini menceritakan tentang kondisi kota Jakarta yang dilanda bencana hujan lebat dan banjir besar serta gempa yang datang bersamaan, efek dari cuaca global dan badai Laluna dari Australia, sehingga melumpuhkan kota Jakarta. Bahkan menutup akses penduduk Jakarta ke kota lain. Warga Jakarta terisolir, berusaha untuk keluar dari wilayah Jakarta dalam waktu 1×24 jam, karena jika terlambat sedikit saja dipastikan mereka akan tenggelam, karena bendungan katulampa tidak kuat menampung volume air dan diperkirakan akan memuntahkan air bah serta menenggelamkan kota Jakarta.

Dalam Film terbaru besutan sutradara Rako Prijanto ini, Vino Sebastian berperan sebagai Adri, sosok ayah dua anak yang berprofesi sebagai petugas penyelamat (BASARNAS). Dalam kondisi Jakarta darurat bencana, Adri dituntut untuk profesional dalam bekerja, namun di lain sisi dia harus menjadi suami dan ayah yang siaga terhadap keluarganya, apalagi saat terjadi bencana. Konflik mulai muncul saat Indri (Putri Ayudya) yang merupakan istri Adri, dan dua anak mereka, Eka dan Dwi merasa diabaikan oleh Adri yang menurut mereka lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarganya.Padahal sebelumnya mereka adalah keluarga yang sangat harmonis. Ujian bertambah berat ketika anak sulung mereka menjadi salah satu korban meninggal dalam bencana yang melanda Jakarta.

Konflik utama film tidak hanya menimpa keluarga kecil Adri saja. Denada (Aca Septriasa) dan Arifin (Deva Mahendra) yang berperan sebagai sepasang kekasih yang siap menikah juga mengalami konflik. Kekuatan cinta mereka dipertaruhkan untuk menyelamatkan kota Jakarta dari bencana besar. Sikap kritis Arifin dan jiwa sosial yang dimiliki Denada menjadi intrik sendiri bagi sutradara untuk mengalirkan cerita.

Benang merah dari kedua konflik itu adalah profesi Arifin yang ternyata petugas BMKG dan Denada yang adalah seorang dokter dengan jiwa sosial tinggi. Aktifitas mereka membaur dalam setting cerita kondisi Jakarta darurat bencana.

Cerita film berakhir dengan happy ending. Adri dan Arifin berhasil menemukan solusi untuk mengantisipasi banjir besar yang berpotensi menenggelamkan Jakarta, sebelum air bah sampai ke Jakarta. Tentunya usaha keduanya dibantu dengan peran Indri dan Denada, sebagai sosok wanita pendamping yang setia dan penuh cinta.

Film ini didukung oleh para pemain kawakan lainnya seperti Ferry Salim, Ernest Samudra, dan Ade Firman Hakim.

Saya dan istri menikmati jalannya cerita selama film diputar. Maklum, kondisi keluarga Adri mirip sekali dengan keluarga kami, yaitu dengan dua anak, yang sulung perempuan dan si bungsu laki laki. Beberapa adegan sempat membuat saya hanyut dalam jalannya cerita. Seperti saat keduanya kehilangan anak sulung mereka karena menjadi korban banjir, saat itu sutradara berhasil memainkan emosi saya (mungkin istri saya juga, tanya aja sendiri yah.. he he). Kesedihan seorang bapak dan sikap kehilangan seorang ibu benar-benar bisa saya rasakan saat menonton. Klimaks emosi terjadi saat kondisi Adri yang dituntut profesional menjadi petugas BASARNAS dalam kondisi bencana, dan harus meninggalkan istri tercinta yang saat itu sedang terpuruk. Dialog Adri saat itu sangat menyentuh, “Orang tua mana yang tidak sedih dan kehilangan ditinggal anaknya”. Menurutku kalimat itu terlontar disaat yang tepat, sehingga cukup meyakinkan hati Indri, bahwa sosok Adri adalah seorang yang profesional, dan bisa menjadi suami dan ayah yang perhatian dengan keluarga.

Adegan yang saya suka lainnya adalah saat Adri meminta maaf kepada Indri karena sering meninggalan keluarga demi tugas, dan jawaban Indri sungguh membuat saya merasakan betapa bahagianya menjadi seorang Adri yang memiliki istri berhati lembut keibuan. Kalimat “Aku sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta maaf” menjadi kalimat pamungkas yang meluluhkan penonton pria seperti saya  (dan mungkin para suami lainnya). *hayo ngaku!

Entah kenapa, beberapa scene dalam film ada yang kurang sreg menurut saya. Pertama penggambaran kepanikan penduduk kota Jakarta kurang tergambar dengan maksimal. Kepanikan yang terjadi dalam film seperti kemacetan, proses evakuasi bencana, dan setting kota Jakarta yang diceritakan berstatus bahaya tidak terdeskripsi dengan maksimal. Mungkin karena saya termasuk penduduk Jakarta dan tahu persis detil kondisi Jakarta setiap hari, jadi punya perbandingan tersendiri terhadap cerita dalam film. Namun begitu, saya memuji desain grafis yang menghiasi adegan demi adegan kejadian dalam film, seperti saat hujan lebat, banjir bandang, awan gelap, dan kondisi korban banjir di basement gedung, dan adegan lainnya.

Overall, film ini recommended banget buat kamu yang ingin mengajarkan cinta kepada pasangan. Selain itu film ini juga bisa membangkitkan rasa saling peduli, baik peduli terhadap keluarga maupun peduli terhadap sesama. Mumpung masih tayang di bioskop, yuk nonton film “Bangkit”. Jangan lupa ajak ajak saya yah, rasanya nggak bosen melihat adegan-adegan nya Vino G Sebastian dan Putri Ayudya yang menurut saya bisa menjadi sosok pasangan yang romantis dan harmonis.

Film Bangkit

Foto keluarga bareng Indri (Putri Ayudya) dan Ade

Selamat menonton.

Iklan

2 responses to “Film “BANGKIT” Mengajarkan Kekuatan Cinta Dalam Keluarga

Itu kan Kata Kidemang, Apa Kata Kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s