Sop Bukur ala Anak Rantau, Makanan Penawar Rindu dari Kampung Halaman

sop-bukur-ala-anak-rantau

Sop Bukur Ala Anak Rantau

Puluhan tahun merantau dan menetap di daerah orang bukan berarti betah tinggal di “negeri orang”. Ada kondisi tertentu yang membuat saya kangen dan ingin pulang ke kampung halaman tercinta. Meskipun sudah memutuskan untuk menetap dan pindah KTP DKI, namun pada waktu waktu tertentu, rindu suasana kampung seringkali saya alami. Penyebab kangen itu bisa beragam, dari mulai kangen ketemu orangtua, kangen ketemu teman sepermainan waktu kecil, dan kangen menikmati kuliner khas daerah.

Entah kenapa masakan daerah khas buatan emak itu tak tergantikan, dan memiliki daya pikat yang luar biasa. Mungkin karena ketulusanya dalam membuat makanan untuk buah hatinya, sehingga bisa membuat saya merasa “ketagihan” dan mendadak pengen pulang ke kampung halaman jika mengingatnya.

Jajanan dan makanan khas kampung halaman selalu memiliki cerita tersendiri bagi saya.  Cerita masa kecil di kampung halaman otomatis langsung di putar oleh otak jika melihat atau mencium aroma makanan khas daerah kesukaan saya.

Sop Bukur adalah satu dari sekian banyak kuliner khas daerah yang saya suka, dan sering membuat saya kangen ingin pulang kampung untuk sekedar “reunian”. Seumur saya merantau, belum pernah saya temui makanan khas ini di Jakarta. Padahal bahan dan bumbunya sangatlah sederhana dan tersedia disini.

Sop Bukur dan Cerita Masa Kecil

Bukur adalah sebutan untuk Kerang Darah di kampung halaman saya, nama ilmiah nya Anadara Granosa. Jenis kerang ini banyak dijumpai di pesisir pantai yang mengandung lumpur. Di Tegal sendiri kerang ini banyak ditemukan di pantai Tegalsari, sebuah daerah di pesisir kota Tegal, Jawa Tengah. Selain enak dan gurih, Kerang Darah juga konon banyak mengandung omega 3 yang sangat baik untuk butrisi otak. Nah, dikampung halaman saya, Bukur menjadi kuliner khas daerah sebagai kudapan berkuah, seperti namanya depannya, Sop.

Sop Bukur akan sangat mudah ditemui saat musim puasa Ramadhan. Biasanya Sop ini disajikan sebagai kudapan selepas berbuka puasa. Waktu masih kecil, saya dan teman-teman sebaya seringkali menikmati kuliner ini selepas sholat tarawih. Kami menikmatnya diatas sebuah wadah bernama Takir.

Takir adalah wadah makanan yang dibuat dari daun pisang, yang dibentuk cekung menyerupai mangkok, dengan lidi sebagai pengait. Takir dipakai untuk makanan yang bersifat basah atau berkuah seperti Sop Bukur ini.

Sembari berkumpul dan ngobrol kegiatan Ramadhan, kami menikmati Sop Bukur dengan kedua tangan kami. Iyah, kedua tangan. Sebab butuh kedua kuku jempol untuk membuka cangkang bukur dan mengambil isi atau dagingnya. Untuk membuat Sop Bukur, kerang darah memang sengaja dimasak dengan cangkangnya. Sensasi menikmati Sop Bukur memang akan terasa waktu membuka cangkang kerang. Apalagi sebelum dibuka cangkangnya, kerang terlebih dahulu di sedot menggunakan ujung mulut pada sela sela kulit kerang yang setengah membuka. Pada saat menyedot itulah bumbu dan kuah gurih Sop yang ada di dalam kerang dan bercampur dengan daging lunak serta lendir Bukur akan berpindah ke mulut. Rasanya? Jangan di tanya, sungguh gurih dan nikmat.

sop-bukur-dengan-wadah-takir

Cara Menikmati Sop Bukur

Eits…! tidak sampai disitu, daging kerang yang masih ada didalam kulit kerang juga rasanya tak kalah gurih loh. Butuh usaha ekstra memang untuk menikmatinya, tak ada cara lain selain membuka cangkang kerang dengan kuku jempol tangan, dan mengambil serta menikmati daging lezat itu.

Udah, itu doang?

Tunggu dulu…! masih ada momen akhir yang justru membuat sensasi menikmati Sop Bukur itu terbawa sampai sekarang, yaitu menghabiskan kuah sop di menit menit terakhir. Yup! Seperti susu kental manis yang enaknya hingga tetes terakhir, Sop Bukur juga punya sensasi enak saat tetes terakhir. Kuah Sop original dan kombinasi sayuran segar yang gurih membuat sensasi makan Sop Bukur memiliki cerita tersendiri. Biasanya kuah dan sayuran sop bukur itu terdiri seledri, kol, kucai, dan daun bawang. Semuanya larut dalam campuran aneka rempah seperti lengkuas, dan irisan cabai merah serta bawang (merah dan putih).

Sop Bukur Ala Anak Rantau

Sudah menjadi mitos bahwa makanan laut itu mengandung lemak jenuh yang tinggi, sehingga memicu tingginya LDL yang berakibat meningkatnya kadar kolesterol darah. Nah, kebetulan saya termasuk orang dengan kolesterol tinggi. Itu sebab saya punya resep sendiri untuk mengolah Sop Bukur ini menjadi menu yang aman di konsumsi. Ini dia resepnya :

Bahan   :

  • 1000 gram Bukur atau Kerang Darah segar
  • 100 gram kol
  • Seikat daun seledri dan kucai
  • Beberap lembar daun bawang
  • 3 siung bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 3 lembar daun salam
  • Sepotong lengkuas ukuran ibu jari
  • Garam secukupnya

 

Seperti umumnya mengolah seafood, cara pembuatan Sop Bukur pun sangat mudah, terutama bagi seorang anak rantau seperti saya, cukup butuh peralatan panci, pisau, talenan, dan sendok sayur. Caranya :

  1. Cuci kerang dengan air bersih supaya sisa-sisa pasir dan lumpur laut nya hilang. Kemudian rebus kerang dalam panci berisi air mendidih.
  2. Sambil menunggu kerang matang kurang lebih 30 menit, iris sayuran seperti kol, bawang merah, bawang putih, cabai merah, daun bawang, seledri, lengkuas dan kucai.
  3. Setelah sebagian kerang terlihat kulitnya kemerahan, pertanda daging kerang sudah matang. Biasanya sisa pasir laut yang berada di dalam kulit kerang juga akan keluar dengan sendirinya seiring dengan matangya daging kerang. Setelah itu tiriskan kerang dalam wadah, dan buang air bekas rebusan kerang bersama dengan sisa pasir laut.
  4. Isi panci dengan air, dan setelah mendidih masukkan kerang bersama sayuran yang sudah diiris tadi.
  5. Terakhir masukkan daun salam dan garam secukupnya. Biarkan selama 15 menit dengan api sedang.
  6. Setelah matang, Sop Bukur siap disantap dengan taburan bawang goreng.

 

Saya sengaja menambahkan daun salam untuk menetralisir lemak jenuh yang memicu naiknya kadar kolesterol, dan daun seledri untuk menguatkan fungsi ginjal. Sekarang saatnya menikmati Sop Bukur sambil reunian menganang masa kecil di kampung halaman.

jelajah-gizi

 

Iklan

One response to “Sop Bukur ala Anak Rantau, Makanan Penawar Rindu dari Kampung Halaman

Itu kan Kata Kidemang, Apa Kata Kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s