Merajut Kembali Makna Pancasila Setelah Nonton Film LIMA

Film LIMA 1

Waktu sekolah dulu, kalo ditanya kenangan apa yang paling membekas dan tidak terlupakan hingga sekarang? Jawaban saya adalah saat sedang ditugasi menjadi petugas upacara bendera. Dulu setiap hari senin, di sekolah pasti ada upacara bendera, nggak tau deh sekarang upacara bendera masih hari senin apa sudah diganti hari, udah lama soalnya gak lihat anak-anak sekolah :p

Kenapa momen upacara bendera menjadi kenangan tak terlupakan? Karena pada momen ini, segala nya diuji (untuk anak seusia Sekolah Dasar khususnya). Apa saja yang diuji? Pertama uji fisik, dan kedua adalah uji mental.

Uji fisik karena kami latihan berdiri selama berjam-jam di terik matahari. Mending kalo dilapangan ada pohon rindang, bisa berteduh dibawahnya, lah ini blas nggak ada pohon. Meskipun upacara nya pagi hari, tapi buat saya berdiri berjam-jam merupakan rekor dan pencapaian. Coba aja sekarang suruh berdiri berjam-jam lamanya, dijamin itu kaki bisa gantian menopang badan. Atau kalau enggak, itu telapak kaki mulai kesemutan *FaktorU 😀 😀

Disebut uji mental karena biasanya nih, kalo upacara petugasnya bergantian, suatu waktu pasti kita kebagian untuk menjadi petugas upacara. Ketika menjadi petugas upacara, secara tidak langsung kita akan diuji mentalnya untuk berdiri didepan ratusan bahkan ribuan teman-temam sekolah dan guru. Bahkan jika menjadi komandan upacara, kita memimpin pasukan upacara dari semua peserta upacara.

Biasanya, posisi petugas upacara yang sering di gilir adalah petugas pembawa bendera, pembaca undang-undag dasar 1945, komandan upacara, komandan regu, pembawa teks doa, dan pembawa teks pancasila.

Pendidikan Pancasila Sesuai Tingkatan Sekolah

Untuk posisi pembawa teks Pancasila, meskipun hanya membawakan teks, tapi posisi kita berada di belakang pembina upacara. Dan biasanya nih pembina upacara adalah orang nomor satu di sekolah, semisal kepala sekolah, atau wakil kepala sekolah. Kebayang kan meskipun hanya membawakan teks, tapi betapa nervous nya saat itu.

Untuk isi teks nya sendiri sih, semua siswa SD sudah hafal sampai ke butir-butir sila nya yang berjumlah 45 butir. Untuk bunyi sila nya, saya sendiri hafal dari Balita. Yah, gimana nggak hafal coba, waktu itu siaran televisi adanya TVRI doang, trus setiap kali mau tayang film, openingnya lagu Garuda Pancasila.

Garuda Pancasila… Akulah pendukungmu… Patriot Proklamasi… Patriot berkorban untukmu…. Pancasila dasar Negara… Rakyat adil makmur sentosa… Pribadi bangsaku… Ayo maju.. maju. Ayo maju… maju. Ayo maju… maju!!

Namanya anak balita, daya rekamnya masih bagus, disuguhi mars Pancasila tersebut ya otomatis hafal dan membekas sampai sekarang. Itulah pendidikan Pancasila pertama yang kami (generasi tahun 90) kenal. Apa kabar generasi jaman now? Yang ada hafalannya opening film Doraemon dan Upin Ipin kali yah… Xixixi

Saat itu, kami hafal mars Pancasila namun sebatas mars nya saja, yang dengan itu justru kami merasa penasaran, apa sih itu Pancasila?

Kemudian memasuki usia sekolah TK, disana mulai dikenalkan dengan kelima sila dari Pancasila. Bahkan hampir setiap hari sila itu di ulang-ulang, malahan menjadi lagu nasional paling favorit anak TK (pada zaman itu). Hmmm… apa kabar di zaman now? Anak TK zaman now udah bisa nyanyian lagu Via Vallen, Goyang Dewi Persik, dan lirik percintaan xixixi…

Yuk, taruhan sama anak TK jaman now, pada hafal nggak bunyi sila Pancasila ini?

PANCASILA

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan
  5. Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia

Jika zaman Balita sudah hafal mars Pancasila, Pada zaman TK hafal sila Pancasila, dan zaman SD hafal butir-butir Pacasila, berbeda lagi saat memasuki bangku SMP dan SMA. Pada fase ini, generasi kami sudah diajarkan bagaimana implementasi dalam penerapan nilai-nilai Pancasila, baik secara teori maupun praktek. Bayangkan saja, untuk mengenal dan menerapkan nilai-nilai Pancasila, saat pertama kali masuk jenjang SMP, generasi kami diwajibkan mengikuti Masa Orientsai Siswa (MOS) dengan materi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Anak generasi 90 pasti punya kenangan dengan momen ini.

Sekali lagi anak zaman now kenangannya apa di jenjang SMP dan SMA? Hmm… palingan juga perpeloncoan dan lucu –lucuan dandan aja kali yah…?!

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila Zaman Now

Momen menghafal mars Pancasila, menghafal sila Pancasila, butir-butir Pancasila, dan Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam materi P4, secara refleks terlintas kembali di kepala saat saya dan teman-teman Blogger member Shopback.id menonton film LIMA, Sebuah Film yang dibuat khusus untuk menggugah masyarakat mengenai arti penting penerapan nilai-nilai pancasila. Film ini diputar khusus pada hari lahir Pancasila, tanggal 01 Juni 2018 lalu.

Dalam film tersebut, adegan demi adegannya menyiratkan pesan kepada penonton untuk melihat penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Dalam prolog film LIMA misalnya, seorang ibu 3 anak bernama Maryam, yang awalnya muslim, kemudian pindah agama Nasrani, saat menjelang kematiannya memilih untuk kembali menjadi muslim, tanpa memaksakan anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya. Begitu juga sebaliknya, meski ada salah satu anaknya yang Nasrani, namun mereka menghargai keputusan sang ibu. Sikap ini menggambarkan nilai sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, terutama butir ke 3, 4, 6 dan 7.

Konflik demi konflik sepanjang film juga menggambarkan tentang pelanggaran dan penerapan nilai-nilai Pancasila oleh sutradara, diantaranya : adegan main hakim sendiri, adegan bermusyawarah dalam pembagian harta warisan keluarga, adegan pencurian dan sidang di pengadilan, adegan mengorbankan kepantingan pribadi diatas kepentingan orang lain, dan adegan lainnya yang penuh dengan nilai nilai luhur Pancasila.

Arti Pancasila Menurut Saya

Nonton Bareng Film LIMA bersama Komunitas Shopback.co.id

Sepanjang menonton film LIMA, saya berusaha menyimpulkan scene demi scene dan adegan film LIMA. Semua adegan menyiratkan pesan kepada penonton untuk sadar dan kembali kepada Pancasila sebagai dasar negara.

Film LIMA di sutradarai oleh 5 sutradara ternama tanah air, antara lain: Shalahudin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah dan Adriyanto Dewo.

Para pemainnya adalah aktor dan aktris yang sudah tidak asing lagi di mata para penikmat film, antara lain: Ibu Maryam diperankan oleh Tri Yudiman, Fara diperankan oleh Prisia Nasution, Aryo diperankan oleh Yoga Pratama, Adi diperankan oleh Baskara Mahendra, Bi Ijah diperankan oleh Dewi Pakis

Film ini sarat dengan nilai-nilai kebangsaan yang bisa memupuk rasa nasionalisme. Meskipun ada sedikit sikap yang menurut saya klise pada beberapa adegan, namun masih relevan dengan kenyataan yang ada saat ini.

Dengan didukung oleh para pemain yang professional, film ini layak untuk ditonton khusunya untuk anak-anak generasi zaman now.

Arti Pancasila Bagi Saya

Sebagai dasar negara, Pancasila wajib dipahami dan dimengerti oleh semua warga negara. Sistem pendidikan harus berbasis Pancasila, dan dilakukan secara berjenjang seperti pada awal tulisan saya. Dari rutinitas upacara itulah sebenarnya saya dan teman-teman sedang dididik untuk mengenal apa itu Pancasila. Sejak TK kita sudah hafal dengan Pancasila, tanpa tahu maknanya, kemudian naik tingkat ke Sekolah Dasar, anak mulai dikenalkan dengan butir-butir Pancasila, sebagai penjabaran dari kelima sila Pancasila. Kemudian pada jenjang berikutnya diajarkan bagaimana penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui film LIMA, kami seolah disadarkan dan diajak untuk kembali kepada nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pandangan hidup Warga Negara Indonesia. Sesuai dengan fungsi Pancasila bagi Negara Indonesia yang penuh keberagaman. Pancasila bagi saya merupakan satu-satunya alat pemersatu bangsa, yang bisa merawat keberagaman, sehingga bisa menjaga keutuhan Negara Kesatuan Repubkik Indonesia (NKRI).

Saya Indonesia, Saya Pancasila!

Iklan

One response to “Merajut Kembali Makna Pancasila Setelah Nonton Film LIMA

  1. Pengen banget sebenarnya nonton film LIMA ini, tapi bioskop nggak ada di tempat saya. Tapi mudah2an film ini mampu memberikan dampak baik bagi keberagaman, toleransi dan nasionalisme di masyarakat Indonesia.

Itu kan Kata Kidemang, Apa Kata Kamu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s